Blog - SAS Hospitality

Tentang Rencana Pembiayaan Bisnis Hotel : Pastikan Penuhi 5C


Berita - Sas Hospitality

Setelah membuat berbagai analisa bisnis hotel, mulai dari analisa ekonomi, analisa risiko, hingga analisa ROI, dan sudah di bukukan serta dilengkapi sebuah proyeksi keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan, langkah berikutnya adalah memutuskan bagaiman proyek pembangunan hotel ini akan dibiayai. Apabila sumber pendanaannya adalah dari dana pribadi, maka dapat diteruskan ke pengurusn perijinan, tender proyek dan seterusnya. Namun apabila sebagian pembiayaannya harus dibiayai oleh lembaga pembiayaan seperti Bank, maka langkah berikutnya adalah menghubungi pihak bank dan mengajukan proposal pembiayaannya. Bagian Bank yang mengurusi kredit seperti ini adalah di bagian kredit komersial.  Prosesnya biasanya akan bertemu dengan bagian customer relation atau account managernya kemudian akan dianalisa oleh bagian analis, di bicarakan dilevel direksi dan akhirnya diputus apakah pengajuan kredit tersebut disetujui ataukah tidak.

Beberapa ketentuan administrasi akan dipersyaratkan oleh pihak bank, mulai dari dokumen kepemilikan, background usaha debitur serta proposal bisnis yang dilengkapi dengan studi kelayakan yang pembuatnya harus menjadi rekanan dari bank tersebut. Namun tentunya perhitungan dan proposal awalnya harus sudah dibuat oleh Investor yang bersangkutan.

Dalam hal ini, yang paling penting untuk disadari adalah semakin besar alokasi anggaran yang dibiayai oleh Bank maka semakin berat juga target penjualan yang akan dicapai. Tergantung dari lokasi, latar belakang investor, pengelola hotel dan asumsi-asumsi lainnya, biasanya Bank akan memberikan bantuan pembiayaan maksimal di 65% dari nilai bangunan, dan self financing di 35%.  Untuk nilai atas tanah biasanya tidak termasuk kedalam investasi yang akan didanai oleh Bank.

Didalam dunia Perbankan, persetujuan sebuah kredit tidak hanya didasarkan dari nilai sebuah bisnis itu sendiri tetapi ada juga faktor faktor lain yang biasanya disebut dengan 5 C.

5C pada hakikatnya adalah akronim dari Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral. Di mana jika nasabah telah memenuhi 5 prinsip tersebut, maka bisa dipastikan akan mudah untuk mendapatkan kredit dari bank.

  • Character

Character adalah analisa kepribadian dari nasabah. Untuk hutang yang relative kecil biasanya custumer service sebuah bank dapat memberikan masukan setelah melakukan wawancara dengan calon nasabah tersebut mengenai latar belakang, kebiasaan hidup, lifestyle dan lain analisa lainnya. Sedangkan untuk hutang yang relative besar seperti pada investasi pembangunan hotel, pihak bank akan melakukan proses analisa dari karakter nasabah selain wawancara, pastinya pihak bank akan melakukan survey langsung dan cross reference atas kepribadian nasabah tersebut. Character ini ditempatkan diurutan pertama, Inti dari prinsip Character ini ialah menilai calon nasabah apakah bisa dipercaya dalam menjalani kerjasama dengan bank.

  • Capacity

Prinsip kedua adalah Kapasitas, yaitu menilai seberapa besar kemampuan usaha yang sekarang dimiliki oleh Nasabah. Bank akan mengevaluasi apakah debitur tersebut pernah mengalami sebuah permasalahan keuangan sebelumnya atau bisnisnya berjalan dengan baik. Ide utama dari menilai nasabah dari unsur capacity adalah kemampuan nasabah membayar kredit yang diberikan.

 

  • Capital

Capital adalah kondisi kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang dikelola calon debitur. Bank harus meneliti modal calon debitur selain besarnya juga strukturnya. Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dapat dilihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas dan solvabilitasnya, rentabilitas dan ukuran lainnya.

 

  • Condition

Condition adalah prinsip yang menganalisa faktor dari luar atas kondisi perekonomian baik mikro maupun makro yang dikaitkan dengan prospek bisnis nasabah yang bersangkutan. Penilaian kondisi dan bidang usaha yang dibiayai ini diharapka oleh pihak bank hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil.

  • Collateral

Collateral merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun yang nonfisik. Jaminan yang dikehendaki oleh Bank biasanya selalu diingikna yang melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan tersebut juga akan diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi sesuatu nantinya (misalnya gagal bayar), maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin oleh pihak Bank.

Sumber:

Step by step opening hotel by Martono Tikjanto